SETIAP
Tindakan kita memberikan akibat. Akibat tindakan kita tidak secara
langsung kita ketahui, seperti halnya sebuah biji membutuhkan waktu
untuk bertumbuh dan menjadi sebuah pohon, demikian juga tindakan kita
juga membutuhkan waktu untuk membuahkan hasil.
SUDAH Saatnya kita memahami cara kerja sebab akibat, kita akan memahami
bahwa semua situasi, keadaan, kejadian, peristiwa, kenyataan, yang kita
alami dalam hidup sekarang ini tidaklah terjadi karena kebetulan,
melainkan karena akumulasi tindakan kita dalam menciptakan / mekreasi
situasi, keadaan, kejadian, peristiwa dan kenyataan yang sama dimasa
lalu pada orang lain, pada benda atau mahluk lain, pada alam semesta,
pada diri kita. Seperti halnya BUMERANG yang akan kembali kepada
pelemparnya, demikian pula diri kita akan diperlakukan sebagaimana kita
memperlakukan orang lain.
"Siapa Yang Menabur Dia Yang Menuai."
Kita meretakkan hubungan persahabatan, menghina, menyakiti dan menggunjingkan orang lain, serta mengambil milik mereka. Jika demikian, apakah aneh jika kita mendapatkan keburukan? Mungkin kita tidak menyakiti orang yang melukai kita sekarang, namun kita telah menyakiti orang lain di masa lampau.
Kita meretakkan hubungan persahabatan, menghina, menyakiti dan menggunjingkan orang lain, serta mengambil milik mereka. Jika demikian, apakah aneh jika kita mendapatkan keburukan? Mungkin kita tidak menyakiti orang yang melukai kita sekarang, namun kita telah menyakiti orang lain di masa lampau.
Saat buah tindakan kita telah matang, tidak berguna untuk merasa marah atau tenggelam dalam kesedihan, karena diri sendiri yang menempatkan kita dalam situasi tersebut.
Sebagaimana orang bijak, Shantideva berkata:
" Mengapa saya melakukan tindakan-tindakan itu sebelumnya disakiti? Karena segalanya berkaitan dengan tindakan saya. Mengapa saya mendendam terhadap mereka (yang menyakiti saya sekarang? "
" Mengapa saya melakukan tindakan-tindakan itu sebelumnya disakiti? Karena segalanya berkaitan dengan tindakan saya. Mengapa saya mendendam terhadap mereka (yang menyakiti saya sekarang? "
Jika kita tidak mau menerima perlakuan yang menimbulkan rasa sakit dimasa yang akan datang HENDAKLAH saat ini KITA meMULAI KESADARAN untuk berhenti menyakiti orang, mulai mengasihi dan melayani orang mulai dari Hal-hal Kecil yang penting Tulus, Ikhlas, Bersyukur dan SAJE (Benar, Benar BENAR).
Selalulah BERPEGANG TEGUH PADA AJARAN KEBAJIKAN yakni Bangkit Menjadi
Baik, Menjadi Bijaksana, Menjadi Seimbang, Menjadi Selaras. LALU
berjalanlah dengan TONGKAT SAKTI TRI KAYA PARISUDHA (TRI KARANA SUDHI),
yang merupakan 3 (tiga) PUSAKA KUNCI Pembebasan Karma Wasana, Berpikir
yang Baik dan Selalu Positif, Berkata yang Baik dan Lemah Lembut, dan
Berbuat yang Baik dan Rendah Hati.
JIKA KITA menanam Pepaya
dikebun belakang rumah kita, MAKA Orang lain dapat memetiknya dengan 3
(tiga) cara yakni Meminta, Membeli dan Mencuri. NAMUN untuk Tanaman
Perbuatan Baik atau Buruk bila saatnya Berbuah, tanaman baik hasil kan
buah yang baik, tanaman buruk hasilkan buah yang buruk, TIDAK DAPAT
DIPETIK ORANG LAIN Biarpun dikasih gratis plus bonus. HANYA SIAPA yang
menanam HANYA DIA yang memetik.
Jadi segeralah SADAR dan Lalu LAKUKAN hal-hal BAIK agar kita selalu menikmati Manisnya Buah Kebajikan. Rahayu.
Denpasar, 11 Juni 2016
(c) Ki Belog Ngodog
PONDOK KEHENINGAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar