Selasa, 21 Februari 2017

Siapakah yang Layak Disebut Brahmana? (059)

BRAHMANA, SIAPAKAH YANG LAYAK DISEBUT BRAHMANA?

Siapakah yang layak menyandang Gelar Brahmana? Adakah Gelar Brahmana sudah pasti disandang oleh Mereka yang juga Anak Keturunan Sang Brahmana? Masihkah layak mereka para Anak Keturunan Sang Brahmana menyandang Gelar Brahmana?

Seseorang agar mendapat Gelar Brahmana wajib memenuhi 3 (tiga) syarat utama. Tanpa itu maka siapapun Dia tidak layak menyandang Gelar Brahmana apalagi hanya anak keturunan Brahmana.
Ketiga syarat utama itu adalah Dia mampu BERBICARA, BERPIKIR dan BERTINDAK Berdasarkan Wedha.

Jadi sesungguhnya yang paling layak menyandang Gelar Brahmana adalah Mereka yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran Wedha dimana mereka senantiasa BERBICARA, BERPIKIR dan BERTINDAK Berdasarkan Wedha.

Tidak sembarangan orang dapat memperoleh Gelar Brahmana karena Brahmana itu adalah MAHA ATMA (Atma Besar/ Atma yang Paling Mulia), hal ini tersurat dalam Pancama Wedha (Bhagawad Geeta) sebagai berikut :

" manasyeekaam, vachasyeekaam, karmanyekaam mahatmanaam "
artinya : Dia yang mampu menjaga keselarasan pikiran (manasyeekaam), ucapan (vachasyeekaam), tindakan (karmanyeekaam) adalah Orang yang Paling Mulia (mahatmanaam)

" manasyaayaat, vachasnyaayaat, karmanyaayaat, dhuratmanaam "
artinya : Dia yang selalu memiliki pikiran buruk (manadnyaayaat), ucapan buruk (vachasnyaayaat), tindakan buruk (karmanyaayaat) adalah Orang yang Jahat (dhuratmanaam).

Salah satu Sloka inilah yang menjadi dasar bahwa tidak sembarang orang dapat menyebut dirinya dengan Gelar Brahmana. Jadi sangat berat menyandang Gelar Brahmana. 

Siapapun Dia yang telah mampu berjalan, melangkah, mengalir berdasarkan SLOKA diatas layak diberi Gelar Brahmana. Dan mereka yang belum memiliki kemampuan seperti yang disyaratkan oleh Wedha tetaplah disebut ORANG BIASA.

Gelar Brahmana BUKANLAH Gelar Jabatan, Gelar Penghargaan, Gelar Politik, Gelar Keturunan, Gelar Nama, Gelar Warisan NAMUN Gelar KELAYAKAN dari Hyang Kuasa atas Kemampuan Seseorang menyelaraskan Pikiran/Hati, Ucapan/kata-kata dan Tindakan/perbuatannya sehari-hari.

PONDOK KEHENINGAN,
17 Agustus 2016
(c) Ki Belog Ngodog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar